Thursday, January 10, 2019

10 JANUARI 2019

Nama saya Biru. Bukan nama sebenarnya, bukan. Tidak juga terinspirasi atas nama anak salah satu selebriti, Xabiru. Saya sudah bertahun-tahun lamanya menyukai warna biru. Ya sudah, di sini saya sebut saya sendiri, Biru. Kamu tidak tahu kan rahasia saya? Ini saya kasih tahu.

Hari ini. 10 Januari 2019. Saya sedang duduk menghadap laptop saya, mencoba untuk mengenang apa yang sudah terjadi selama setahun belakangan di dalam kehidupan saya. Benar-benar bagai rollercoaster. Cepat dinaikkan, cepat pula dihempaskan. Itulah kenapa manusia tidak boleh sombong, padahal ada satu kekuatan besar yang secara sekejap mata akan membuat manusia dengan begitu mudahnya menangis, putus asa, ataupun marah tapi tak berdaya.

Ketika mengingat-ingat masa yang sangat menyenangkan, bisa tertawa tanpa tertekan, tanpa adanya masalah apapun, saya justru merasa tercekat. Kapan lagi saya mengalaminya kembali. Dan sekarang, di sinilah saya. Terpuruk tanpa tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Masalah utama saya cuma satu, tapi ternyata dunia ini cukup dengan mudah berbalik gara-gara hal itu.

Nama saya Biru. Sekarang, uang ATM saya tinggal 800 ribu. Sampai tanggal 26. Menyedihkan bukan? Lebih menyedihkan lagi, saya terjebak hutang yang luar biasa besar sampai saya tidak tahu lagi bagaimana cara membayarnya. Total kalau dihitung-hitung bisa hampir 100 juta rupiah, belum bunga dan dendanya jika telat membayar atau malah tidak membayar. Ada banyak tempat di mana saya meminjam uang. Di bank? Ada. Di koperasi kantor? Ada. Di aplikasi pinjaman online? Ada berceceran. Di teman? Ada juga. Gila kan? Dan seolah saya ingin berkata : tidak sanggup. Kalaupun sanggup, ya oke, butuh waktu bertahun-tahun. Yang tentu saja di tengah-tengahnya ada banyak kemungkinan yang terjadi misal denda dan bunga yang terus bertambah kalau saya fokus di satu hutang dulu. Kan hutang yang lain jadi belum terbayar, ya otomatis nambah dong bunga dan dendanya. Atau kalau cara lain misal dalam sebulan disisihkan 4 juta untuk dibagi rata per tempat berhutang, ya sama saja. Denda dan bunga akan terus membesar karena tidak memenuhi pokok cicilan atau jumlah pelunasan sesuai tempat berhutang masing-masing. Dari ketidakmampuan membayar itu pun juga muncul masalah lain kan? Debt collector pastinya yang paling utama. Belum ditambah lagi ada kabar kalau untuk pinjaman online, banyak yang sampai diteror telepon dan sms. Mending nerornya ke diri sendiri, tapi sampai ke kontak teman atau kerabat yang bersangkutan, ada malah yang ke teman kantor bisa juga atasan. Ngeri sekali kalau kejadian. Malunya seperti apa.

Saya sekarang, untuk sementara, memblokir panggilan masuk khusus nomor yang tidak disimpan di HP saya. Cuma dengan alasan ingin ketenangan saja dulu. Dan juga mungkin alasan bahwa ya bagaimana, uang tinggal 800 ribu. Ada hutang yang jatuh tempo dua hari lagi. Ada yang 8 hari lagi. Ada yang 2 minggu lagi. Saya bisa apa. Ya memang, sekarang beginilah saya. Ada titik dimana saya ingin lepas dari semuanya. Semuanya. Caranya bagaimana? Pikiran terburuk sempat menghampiri tentu. Apa mati saja? Tapi saya tidak mau. Ada juga sampai saya berpikiran, ya sudah, ke polisi saja. Bukan untuk melaporkan para pemberi hutang bukan, tapi untuk mengaku bahwa saya tidak mampu lagi membayar hutang dan penjarakan saja saya bahkan sebelum mereka mengadu ke polisi. Dengan harapan, hutang-hutang saya dianggap lunas dan selesai. Tapi masalahnya kan jadi rumit juga nanti. Emang dipenjara enak? Terus dianggap lunas apakah sesederhana itu? Terus berapa tahun dipenjara? Keluar penjara mau jadi apa? Bukankah sangat jauh lebih susah untuk mencari pekerjaan? Apalagi usia saya yang sudah kepala tiga. Kapan saya nikah? Kapan saya sukses?

Tapi ya kembali lagi ke posisi sekarang. Saya bisa apa. Ikhlas? Ikhlas bagaimana? Ikhlas tentang kenapa ini bisa terjadi? Oh soal itu sudah saya sesali dan saya pun tidak akan menyalahkan siapa pun kecuali saya sendiri. Lalu bagaimana? Entah. Saya benar-benar kalut dan dalam posisi tidak bisa berpikir jernih kecuali menenggelamkan diri dalam lamunan dan bayangan ketakutan tentang masa depan. Besok bagaimana? Saya tidak tahu. Tunggu saja besok.

No comments:

Post a Comment